Monday, August 17, 2009

'To Be' dan 'To Have' sebagai Penentu Corak Hidup

Ada dua kata yang sangat menentukan corak hidup kita. Kesalahan memilih kata yang dijadikan sebagai kendali hidup, akan berujung pada kehancuran. Sebaliknya, bila kita tepat memilihnya, maka perjalanan hidup kita akan dipenuhi dengan prestasi dan kemuliaan hidup. Dua kata itu adalah: "To Be..." dan "To Have...".

To Be adalah keinginan kita untuk "menjadi". Keinginan itu dikaitkan dengan proses untuk mengejar prestasi dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Contoh dari To Be adalah keinginan untuk menjadi pengusaha terbaik di Indonesia yang mampu mempekerjakan 20 ribu lebih karyawan atau keinginan menjadi manajer terbaik di perusahaan tempat bekerja.

To Have adalah keinginan kita untuk "memiliki" sesuatu. Keinginan tersebut dikatikan dengan proses meraih benda-benda materi atau hasil akhir dari sebuah usaha sebagai bentuk dorongan dari kesenangan duniawinya. Contoh dari To have adalah keinginan untuk mendapatkan gaji, tunjangan, fasilitas, rumah, mobil, popularitas, status, dan pujian.

Perbedaaan To Be dan To Have terletak pada titik tujuan yang hendak dicapai, bukan pada kata-kata. Misalnya, ketika kita mengatakan ingin menjadi manajer terbaik, pernyataan itu bisa berarti To Be, bisa juga To Have. Ini sangat tergantung dari apa yang menjadi fokus pengerjaannya.

Bila yang kita kejar adalah gaji manajer, fasilitas manajer, mendapatkan pengakuan, dan pujian dari banyak orang, maka keinginan itu merupakan To Have. Tetapi kalau yang kita kejar adalah kesempatan berprestasi yang lebih besar dan tanggung jawab sebagai seorang manajer dengan mengerahkan semua kemampuan yang kita miliki, maka keinginan itu merupakan To Be.

Kalau pikiran kita dijejali To Have, maka kecenderuangannya adalah setiap apa yang kita lakukan harus selalu mendapat balasan, terutama yang sifatnya lebih ke materi dan kesenangan duniawi. Kita tidak tertantang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar kalau tidak dibayar setimpal atau mendapat kesenangan duniawi lainnya. Prestasi kerja kita menjadi terbatas karena kita hanya bekerja sesuai imbalan atau balasan yang diterima dari perusahaa. Akhirnya, potensi diri kita stagnan dan tidak akan pernah berkembang.

Ketikan kita mengejar To have, seringkali kita tergoda untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan To Have. Kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Banjaran, adalah salah satu contohnya. Akibat orientasi hidupnya adalah To Have, orang-orang yang terlibat kasus itu hidupnya dipenuhi kegelisahan. Bahkan, sudah ada beberapa pelaku yang mendekan di balik jeruji. Nama baiknya ternoda. Harga diri keluarganya pun anjlok.

Namun demikian, bukan berarti To Have dilarang. Hanya saja, To Have tak boleh dijadikan kemudi hidup. Bila kita ingin punya rumah dan mobil, jangan pikirkan rumah dan mobil mewahnya (To have). Pikirkan prestasi apa yang harus kita raih agar kita mampu membeli rumah dan mobil tersebut. Bill Gates bisa menjadi orang terkaya di dunia setelah dia berpresasi di bidang komputer. M Yunus mendapat hadiah nobel setelah berprestasi di bidang microfinance. C Ronaldo mendapat bayaran mahal setelah ia berprestasi di bidang sepakbola.

Bila kita ingin meraih sukses jangka panjang sekaligus kemuliaan hidup, jadikan To Be sebagai kemudi hidup kita. Sebesar dan sehebat apa pun kita, bila menjadikan To have sebagai kendali hidup, kehancuran menanti kita. Lehman Brothers adalah contoh paling anyar untuk hal ini.

Maka, mari kita jadikan To Be sebagai kendali hidup dan yakin bahwa To Have pasti akan mengikuti kita.

Salam SuksesMulia!









By. Jamil Azzaini.

Inspirator SuksesMulia.
Kubik Training & Consultancy.

Wednesday, April 22, 2009

10 Kepribadian Orang Sukses

Suatu kesuksesan memiliki banyak definisi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini, bahwa kesuksesan berarti mencapai posisi tertinggi di kantor, variasi lainnya bermakna memiliki kecukupan finansial tertentu. Ada sebagian lagi mewujudkan kesuksesan sebagai sebuah predikat penghargaan dari kolega dan khalayak atas prestasinya.
Dari bermacam definisi dan tolok ukur itu, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana. Contohnya, si A mendefinisikan sukses jika dia mampu mencapai manajer pemasaran di tempat kerjanya. Usaha untuk “memuluskan” kesuksesan tersebut, A memutuskan untuk belajar kembali di institusi pendidikan S2 dan mengikuti beberapa seminar pemasaran. Tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik itu material dan sikap pribadinya. Bentuk material berupa dana dan waktu merupakan hal yang pasti harus dipersiapkan, lalu perlu juga ditunjang dengan sikap pribadi dalam menyikapi proses pencapaian kesuksesan itu sendiri.


Merujuk kepada Jennie S. Bev yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut:

1. Keberanian Untuk Berinisiatif. Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.


2. Tepat Waktu. Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita.

3. Senang Melayani dan Memberi. Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja! Tetapi, setidaknnya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.

4. Membuka Diri Terlebih Dahulu. Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan?

5. Senang Bekerja Sama dan Membina Hubungan Baik. Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar.

6. Senang Mempelajari Hal-hal Baru. Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang luas dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan.

7. Jarang Mengeluh, Profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik).

8. Berani Menanggung Resiko. Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat.

9. Tidak Menunjukkan Kekhawatiran (berpikir positif setiap saat). Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut.

10. “Comfortable in their own skin” Menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri. Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan.
Siap untuk sukses? Sampai bertemu lagi di puncak gunung kesuksesan!

===***

Saturday, February 28, 2009

Kenapa Banyak Orang Gagal?

Kita percaya bahwa sukses hanya datang pada orang-orang yang menetapkan tujuan-tujuannya dan kemudian bekerja dengan giat untuk mencapainya. Karena itu dengan bantuan seorang ahli, kita perlu segera mulai:
  • Menentukan tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang kita,
  • Menuliskan tujuan-tujuan itu,
  • Meninjau kemajuan-kemajuan kita setiap langkah,
  • Merayakan keberhasilan meraih tujuan tertentu, dan
  • Belajar dari tujuan-tujuan yang berlum tercapai.
(Rich De Vos)

Kenapa Banyak Orang Gagal?
Pada umumnya, setiap orang ingin sukses. Namun kenyataannya, jumlah orang yang sukses di dunia ini dari data statistik hanya 5% saja. Nah, mengapa sedemikian banyak orang yang gagal?
Ada banyak sekali faktor penyebabnya, beberapa diantaranya:
  • Tidak punya tujuan yang jelas.
  • Tidak pernahf mencatata tujuan yang dimiliki.
  • Selalau mencari 'pembenaran' terhadap kegagalan yang dialami.
  • Hanya banyak berteori tanpa kerja nyata.
  • Pesimis dan mudah menyerah.
  • Merasa dirinya tidak pandai, tidak kaya, dan terlalu tua, sehingga merasa tidak mungkin sukses.
  • Malas dan menginginkan segala sesuatu instant.
  • Berteman dengan orang-orang malas dan mudah menyerah.
  • Tidak bisa mengatur waktu.
  • Tidak menggunakan strategi yang pas.
  • Tidak mau mengembangkan diri.
  • Tidak punya kesungguhan untuk sukses.
  • Mengabaikan hubungan sosial.
  • Sombong, merasa dirinya paling hebat dan tidak lagi mau belajar.
  • Orientasinya hanya bersifat materi dan duniawi semata.
  • Dll...

Sukses adalah hak semua orang. Sukses bukan monopoli segelintir orang saja. Namun, sukses juga merupakan 'Pilihan Bersyarat'. Apabila syarat-syaratnya tidak dipenuhi, jangan harap sukses akan datang begitu saja.
Kabar gembiranya...
Sukses bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Banyak orang yang sukses berasal dari golongan biasa. Bukan golongan istimewa. Kebanyakan mereka awalnya adalah orang biasa, namun karena kegigihan dan usaha kerasnya, mereka bisa menjadi orang yang luar biasa.

Sejarah membuktikan, sukses tidak ada katinyannya dengan:
- Usia, - Warna kulit, - Bahasa, - Agama, - Bangsa, - Kondisi Fisik,, - Tingkat pendidikan, dan - Latar belakang keluarga.
Ada banyak sekali contoh yang bisa kita lihat.

Nelson Mandela seoarang warga kulit hitam yang bisa menjadi presiden dan saat itu usianya 72 thaun.
Marconi sudah berhasil mencapai sukses lewat penemuan teleponnya pada usia 24 tahun.








Collin Powell dan Marthin Luther juga berasal dari kulit hitam, namun bisa menjadi orang yang sedemikian terkenal dan berpengaruh.









William Shakespear adalah orang yang cacat kakinya, namun dia bisa menjadi orang yang sangat terkenal karena novel yang ditulinya.
Franklin Delano Roosevelt, presiden ke 32 Amerika Serikat juga bukan orang yang sempurna fisiknya karena menderita polio.









Thomas Alfa Edison telah berhasil melakukan 2.000 penemuan penting, padahal pendidikan formalnya hanya setingkat SD.
Henry Ford bahkan tidak penah duduk di bangku sekolah, namun karena pantang menyerah dan terus berjuang akhrinya ia menjadi raja mobil di dunia.








Abraham Lincoln lahir dari keluarga miskin yang sama sekali tidak bisa dibanggakan. Setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya ia bisa meraih kursi kepresidenan Amerika Serikat.
Napoleon Hill, penulis buku tekenal 'Think and Grow Rich' yang juga seorang motivator kelas dunia berasal dari keluaraga miskin, bahkan telah ditinggal mati ibunya sewaktu ia masih kecil.






Demikian panjang deretan contoh orang-orang sukses di hadapan kita, dan masih banyak lagi contoh orang-orang yang sukses lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai peluang sukses yang sama. Hanya perbedaannya adalah: ada yang mampu menangkap peluang itu dan banyak yang tidak mampu menangkap peluang sukses tersebut. ***

===***

Friday, February 27, 2009

Apa Kesuksesan itu?

Siapapun (Saya, Anda, serta siapa saja), ketika ditanya: "Apakah kamu ingin SUKSES?". Dapat dipastikan, secara tegas dan jelas kita akan menjawab: "Ya iya laaah!!!". Selain itu, secara lugas pula, tiada seorangpun yang menyatakan ingin hidup 'miskin dan susah', namun sebaliknya... semua orang ingin hidup 'serba kecukupan (kaya) dan berbahagia'. Namun permasalahannya adalah:
... tidak setiap orang benar-benar memahami Arti Kesuksesan yang sebenarnya dan tidak mengetahui bagaimana cara mencapai hal-hal yang diinginkan tersebut. ...
Sehingga sangat sedikit sekali orang yang betul-betul bisa menikmati sukses yang diimpikannya.

KESUKSESAN memang impian setiap orang. Tetapi ketika ditanya apa arti kesuksesan, jawabannya pasti bervariasi. Misalnya:

Seorang Guru mengatakan:
'Sukses adalah berhasil mendidik siswa-siswinya, sehingga mereka bisa mendapatkan nilai yang memuaskan dan bisa diterima di perguruan tinggi favorit dalam maupun luar negeri'.

Seorang Pengusaha menjawab:
'Kesusksesan adalah apabila ia bisa mendapatkan keuntungan milyaran, bahkan trilyunan rupiah dan bisa menikmati hidup senang dengan keuntungannya tersebut'.

Seorang Dokter berpendapat:
'Sukses adalah apabila ia berhasil mengobati setiap pasien, bahkan berat dan kritis sekalipun'.

Memang, tidak ada jawaban yang mendefinisikan secara tepat tentang arti kesuksesan. Lain ladang, lain belalang. Masing-masing orang akan memberikan definisi sesuai dengan latar belakangnya masing masing. Namun demikian, setiap definisi pasti memiliki argumen yang kuat.

Selanjutnya, ada beberapa definisi kesuksesan yang bisa kita cermati:

A. Kesuksesan Menurut Para Ahli, diantaranya:
a. Dr.D.J.Schwartz
Kesuksesan adalah 'Banyak hal-hal yang mengagumkan dan positif. Sukses berarti kesejahteraan pribadi, punya rumah megah, bisa menikmati liburan, bisa membeli barang-barang baru, merasa aman di bidang keuangan, bisa memberi kesempatan untuk maju kepada anak-anak. Dan Sukses berarti memperoleh Kenikmatan'.

b. Dorothy Leeds
Kesuksean adalah 'Menukarkan pengetahuan dengan tindakan yang positif, kepemimpinan yang disegani, baik dalam bisnis maupun dalam kehidupan sosial. Sukses berarti kebebasan. Kebebasan dari kegelisahan, ketakutan, kekecewaan (frustasi) dan kegagalan. Sukses berarti selfrespect (merasa terhormat), selalu merasa bahagia dan puas terhadap kehidupannya, dan berhasil berbuat yang lebih baik untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya. Sukses berarti menang'.

c. Andrew Ho
Kesuksesan adalah 'Suatu perjalanan menuju ke sasaran-sasaran hidup yang berharga dan berguna untuk diri sendiri dan masyarakat sekitarnya'.

B. Kesuksesan Menurut Islam
a. Kesuksesan adalah "...orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertaqwa (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang bertaqwa".
(QS.16: An-Nahl, ayat 30-31)

b. Kesuksesan adalah: "Orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik dari hari ini" (Al-Hadits).

c. Kesuksesan adalah: "...orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran".
(QS.103: Al-Asr, ayat 3)

Demikian banyak definisi kesuksesan. Namun kita harus mencari definisi yang paling tepat bagi seorang muslim. Karena tujuan hidup kita bukan hanya semata-mata dunia saja atau semata-mata akhirat saja. Tetapi harus diseimbangkan antara keduanya, sehingga kebahagiaan di dunia bisa kita rasakan dan kita juga mendapatkan kebahagiaan akhirat yang abadi.

Kekayaan tanpa agama akan membuat orang lupa diri. Sedangkan agama tanpa kekayaan (kecukupan finansial), lama-kelamaan dalam kondisi yang mendesak akan menyebabkan kekufuran, bahkan kekafiran.
Sangat berharga sekali pesan Rasulullah SAW:
"Carilah duniamu seolah-olah kamu akan hidup seribu tahun lagi dan carilah akhiratmu seolah-olah besok pagi kamu mati".

C. Parameter Kesuksesan.
Kesuksesan adalah sesuatu yang bisa diukur dan dilihat indikatornya. Sukses dalam hidup akan bisa tercapai bila elemen-elemen berikut ini terpenuhi:
1. Hati yang tenang.
2. Keluarga yang bahagia.
3. Bisnis atau Karir yang berhasil.
4. Ada kedekatan dengan Allah SWT.
5. Hubungan sosial yang baik.
6. Sumber keuangan yang aman.
7. Rekreasi yang menyenangkan.
8. Segalam macam kebutuhan terpenuhi, termasuk rumah, kendaraan, dan kesehatan.

Setiap orang yang kaya bukan berarti orang yang sukses, tetapi orang yang sukses pasti adalah orang yang kaya, baik secara materi maupun non materi. Betapa banyak orang kaya yang keluarganya berantakan. Demikian juga sekian banyak orang miskin yang tidak bisa menikmati hdupnya dengan bahagia. Jadi, orang yang sukses adalah: Orang yang seimbang dalam mengejar dunia dan akhirat.***

=====***

Thursday, February 26, 2009

SWP: Memahami (Sifat) Manusia

1. Bagaimana Kita Belajar (dan Membeli).
Menurut Giblin, jika dibuat prosentase, manusia dalam belajar dan membeli adalah:

- 83% : dengan Penglihatan.
- 11% : dengan Pendengaran.
- 3 1/2% : dengan Penciuman.
- 1 1/2% : dengan Sentuhan.
- 1% : dengan Rasa.

2. Bagaimana Kita Mengingat Informasi.

- 10% : dari apa yang kita baca.
- 20% : dari apa yang kita dengar.
- 30% : dari apa yang kita lihat.
- 50% : dari apa yang kita lihat dan dengar.
- 70% : dari apa yang kita katakan ketika kita bicara.
- 90% : dari apa yang kita katakan ketika kita melakukan.

3. Ukuran Daya Ingat dengan 3 metode instruksi:
Metode Instruksi : Daya Ingat 3 Jam Kemudian : Daya Ingat 3 Hari Kemudian

A. Hanya memberitahu : 70% : 10%.
B. Hanya memperlihatkan : 72% : 20%.
C. Memberitahu dan Mempereratkan : 85% : 65%.

===***

SWP: Skill With People

Langkah pertama untuk meningkatkan keterampilan kita dalam menjalin relasi manusiawi yang berhasil adalah memahami orang dan kodrat manusia dengan tepat.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman puluhan tahun, Les Giblin menemukan kunci, sekaligus landasan untuk berhubungan dengan orang lain, yaitu:
"Setiap orang Sepuluh Ribu kali lebih tertarik pada dirinya sendiri, daripada tertarik pada orang lain".

Setelah pemahaman tersebut, Les Giblin memberikan Tipsnya, yaitu cara-cara praktis untuk menjalin relasi manusiawi demi meningkatkan kualitas hidup kita, baik dalam karier, hidup keluarga, maupun hidup sosial.

"Skill With People", merupakan karya Les Giblin yang berisi pengetahuan dan teknik untuk meningkatkan keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain. Keterampilan kita dalam menjalin hubungan dengan orang lain sangat menentukan kualitas hidup kita dalam bisnis, keluarga, dan sosial. ***

===***

Friday, February 20, 2009

21 Laws of Leadership

John C. Maxwell telah mempelajari dan menerapkan 'Hukum Kepemimpinan Sejati' selama 30 tahun. Dan kini... telah berhasil dituangkan ke dalam "The 21 Irrefutable Laws of Leadership" (21 Hukum Mutlak Kepemimpinan), sebuah karya mutakhir yang direkomendasikan untuk siapapun yang berkomitmen untuk menjadi pemimpin sejati.


1. HUKUM KATUP
"Kemampuan Memimpin Menentukan Tingkat Keefektifan Seseorang".
Kakak beradik, Dick dan Maurice, sudah hampir meraih Impian Amerika, namun gagal. Malah seorang lainnya bernama Ray yang berhasil mencapainya dengan perusahaan yang mereka dirikan. Itu terjadi karena mereka tidak menerapkan Hukum Katup.

2. HUKUM PENGARUH
"Ukuran Sejati dari Kepemimpinan adalah Pengaruh, Tidak Lebih - Tidak Kurang".
Suaminya memiliki segalanya: kekayaan, keistimewaan posisi, serta gelar kerajaan. Namun ketimbang suaminya, Puteri Diana lah yang memenangkan hati seluruh dunia. Mengapa? Karena ia menerapkan Hukum Pengaruh.

3. HUKUM PROSES
"Kepemimpinan Berkembang Setiap Hari, Bukan Dalam Satu Hari".
Theodore Roosevelt membantu menciptakan negara adikuasa, memenangkan Hadiah Perdamaian Nobel, dan menjadi presiden Amerika Serikat. Namun hari ini kita bahkan takkan mengenal namanya seandainya ia tidak menerapkan Hukum Proses.

4. HUKUM NAVIGASI
"Siapapun Dapat Mengemudikan Kapalnya, Namun Hanya Pemimpinlah yang Dapat Menentukan Arahnya".
Dengan menggunakan kompas yang keliru, Scott memimpin tim penjelajahnya ke ujung bumi, serta menuju kematian yang memalukan. Mereka psti masih hidup seandainya ia, sebagai pemimpin mereka, menerapkan Hukum Navigasi.

5. HUKUM E.F. HUTTON
"Jika Pemimpin Sejati Berbicara, Orang akan Mendengarkan".
John yang masih muda menghadiri rapat dewannya yang pertama, menyangka dirinya sebagai pemimpin. Akhirnya ia sadar siapa pemimpin yang sesungguhnya dan belajar Hukum E.F. Hutton dalam prosesnya.

6. HUKUM LANDASAN YANG MANTAP
"Kepercayaan adalah Landasan dari Kepemimpinan".
Seandainya Robert McNamara telah menerapakan Hukum Landasan yang Mantap, Perang Vietnam dan segalanya yang terjadi di Amerika sendiri karenanya, mungkin saja berbeda jadinya.

7. HUKUM KEHORMATAN
"Orang Dengan Sendirinya Mengikuti Pemimpin-pemimpin yang Lebih Kuat daripada Dirinya".
Harriet Tubman, penentang perbudakan di New England, 1857. Situasi yang dihadapinya sungguh mengenaskan, namun ribuah orang menyebutnya sebagai pemimpin mereka. Mengapa? Karena mereka tidak mungkin terhindar dari Hukum Kehormatan.

8. HUKUM INTUISI
"Para Pemimpin Mengevaluasi Segalanya dengan Intuisi Seorang Pemimpin".
Kok bisa ya Norman Schwarzkopf itu berulang kali merasakan adanya masalah, sementara pemimpin lainnya tidak melihatnya? Jawabannya terletak pada faktor yang membedakan pemimpin-pemimpin besar dengan pemimpin-pemimpin yang biasa saja, yaitu Hukum Intuisi.

9. HUKUM DAYA TARIK
"Siapa Anda Sesungguhnya Menentukan Siapa yang Akan Tertarik Kepada Anda".
Mengapakah tim Dallas Cowboys, yang pernah dianggap sebagai "Timnya Amerika", sekarang begitu sering dicela dan menjadi bahan kontroversi? Hukum Daya Tarik akan menjelaskannya.

10. HUKUM HUBUNGAN YANG BAIK
"Seorang Pemimpin akan Terlebih Dulu Menyentuh Hati, Baru Minta Tolong".
Elizabeth Dole telah menguasainya. Seandaianya suaminya, Bob Dole juga demikian, mungkin saja ia menjadi presiden yang ke-43 dari Amerika Serikat. Namanya Hukum Hubungan yang baik.

11. HUKUM LINGKUNGAN SEPERGURUAN
"Potensi Seorang Pemimpin Ditentukan oleh Mereka yang Paling Dekat dengannya".
John C. Maxwell sudah menggunakan manajemen waktu semampunya, namun masih ingin mencapai lebih banyak lagi. Prioritasnya sudah dibuat maksimal, dan tak ada lagi waktu baginya! Bagaimanakah caranya ia mencapai tingkatan baru? Ia terapkan Hukum Lingkungan Sepergaulan.

12. HUKUM PEMBERDAYAAN
"Hanya Pemimpin yang Mapanlah yang Memberikan Kekuatan kepada Orang lain".
Henry Ford dianggap sebagai lambang sukses bisnis Amerika karena merevolusi industri mobil Amerika. Lalu, apakah yang menyebabkan dirinya tersandung begitu parah sehingga puteranya kuatir Ford Motor Company akan bangkrut? Ia tidak menerapkan Hukum Pemberdayaan.

13. HUKUM REPRODUKSI
"Dibutuhkan Seorang Pemimpin untuk Mengangkat Seorang Pemimpin".
Kesamaan apakah yang dimiliki para pelatih kepada NFL? Anda dapat menelusuri kemampuan memimpin mereka ke beberapa mentor saja. Ini juga berlaku bagi ratusan Direktur utama. Lebih dari 80% dari semua pemimpin adalah hasil dari Hukum Reproduksi.

14. HUKUM KEPERCAYAAN
"Orang Percaya Dulu Kepada Sang Pemimpin, Baru Visinya".
Pertama kali Judy Estrim memulai sebuah perusahaan, ia membutuhkan waktu enam bulan untuk mendapatkan dukungan dana. Kedua kalinya, ia hanya membutuhkan waktu enam menit. Apakah yang membuat perbedaan itu? Hukum Kepercayaan.

15. HUKUM KEMENANGAN
"Para Pemimpin Mencari Jalan Agar Timnya Menang".
Apakah yang menyelamatkan Inggris dari Blitz (Nazi), menghancurkan rezim aparteid di Afrika Selatan, dan membuat tim Chicago Bulls meraih kemenangan dalam beberapa kejuaraan dunia? Dalam ketiga kasus tersebut jawabannya tetap sama. Pemimpin mereka hidup menurut Hukum Kemenangan.

16. HUKUM MOMENTUM BESAR
"Momentum adalah Sahabat terbaik Seorang Pemimpin".
Jaime Escalante disebut sebagai guru terbaik di Amerika. Namun kemampuan mengajarnya baru separuh menjelaskan suksesnya. Suksesnya serta sukses Garfield High School adalah berkat Hukum Momentum Besar.

17. HUKUM PRIORITAS
"Para Pemimpin Memahami bahwa Kegiatan Belum Tentu Berarti Prestasi".
Jack Welch memimpin sebuah perusahaan yang sudah sukses dan membuatnya meroket lebih tinggi lagi. Apakah yang digunakan sebagai landas pacu? Hukum Prioritas, tentunya.

18. HUKUM PENGORBANAN
"Seorang Pemimpin Harus Rela Berkorban Demi Peningkatan".
Ia adalah salah seroang kritikus yang paling vokal terhadap campur tangan pemerintah dalam bisnis. Lalu mengapakah Lee Iacocca pergi ke Kongres untuk memohon jaminan atas pinjamannya? Ia melakukannya karena memahami Hukum Pengorbanan.

19. HUKUM WAKTU YANG TEPAT
"Kapan Harus Memimpin adalah Sama Pentingnya dengan Apa yang Harus Diperbuat dan Harus Menuju Kemana".
Ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat berkat hukum ini. Ia kehilangan kepresidenannya juga karena hukum ini. Apa sih hukum ini? Sesuatu yang mungkin menghalangi kita untuk memimpin dengan efektif. Namanya Hukum Waktu yang Tepat.

20. HUKUM PERTUMBUHAN YANG EKSPLOSIF
"Untuk Menambah Pertumbuhan, Pimpinlah Para Pengikut. Untuk Melipatgandakan, Pimpinlah Pemimpin-pemimpin".
Bagaimanakan seseorang di negara berkembang dapat meningkatkan pengikutnya dari hanya 700 orang menjadi 14.000 orang dalam waktu hanya 7 tahun? John Schnatter melakukannya dengan menggunakan matematika pemimpin. Itulah rahasia dari Hukum Pertumbuhan yang Eksplosif.

21. HUKUM WARISAN
"Nilai Langgeng Seorang Pemimpin Diukur dari Suksesinya".
Ketika kehilangan Direktur Utama, banyak perusahaan menjadi kacau. Namun ketika Roberto Goizueta meninggal, Coca-cola tenang-tenang saja. Mengapa? Sebelum kematiannya, Goizueta telah menerapkan Hukum Warisan.

===***

Monday, February 16, 2009

Reza: Aturan SSP

SSP = Sersan - Senyum - Positive Thinking.



SERSAN (Serius tapi Santai) >> "Lahan Subur"
Mempercepat daya serap dan daya tangkap karena kita berada di jalur Frekuensi ALPHA (8 s/d 13 Hertz), sehingga tercipta optimalisasi pemahaman.

SENYUM >> "Pupuk Unggul"
Artinya menyiapkan stamina, mengendalikan emosi dan mengasah jiwa untuk menerima hal-hal baru dan berbeda.

POSITIVE THINKING >> "Air Jernih"
Lihatlah dan Pikirkan selalu sisi yang baik atau positif, sehingga kita benar-benar akan memperoleh "Real Insight".

Additional:

1. SERSAN (Serius tapi Santai)
Aturan pertama adalah serius tapi santai. Serius artinya kita bersungguh-sungguh (fokus) dan tidak sedang main-main atau iseng dalam melakukan sesuatu. Sekalipun sungguh-sungguh dan tidak main-main, bukan berarti urat syaraf harus tegang atau dahi berkerut. Hadapi segalanya dengan perasaan rileks/ santai. Dalam kondisi rileks atau santai, kita tengah mengaktifkan system limbic dengan efektif. Menurut para ahli di bidang Psycho-neurology inilah yang dinamakan frekuensi Alpha, dimana akses dan pemahaman terhadap informasi jauh lebih cepat dan mudah. Ibarat bertani, aturan pertama ini merupakan lahannya. Bibit yang berkualitas jika ditanam di lahan subur akan berbuah lebat.

2. SENYUM (Smile)
Ketika kita tersenyum, ada sebuah kekuatan yang luar biasa muncul dari dalam diri kita. Tersenyum artinya kita siap menerima kehadiran suatu pengetahuan dengan lapang hati. Tersenyum artinya kita siap berinteraksi untuk sebuah perubahan. Tersenyum juga berarti kita akan bersahabat dengan segala hal yang dapat memperbaiki kualitas hidup. Bagaikan sebuah pupuk yang siap ditebarkan untuk melipatgandakan panen 'Benih Pengetahuan'. Suatu buku motivasi (misal: Real Battle for Success.red) penuh berisi benih-benih unggul yang mampu mengubah kita untuk memiliki motivasi tinggi, yang tercermin pada kata POP:
- Positif Mentalnya.
- Optimis Cara pandangnya.
- Percaya Diri sikapnya.

3. POSITIVE THINKING
Berfikir positif berarti kita memusatkan pikiran pada satu titik yaitu manfaat. Ciptakan sebuah harapan yang baik, yang akan kita peroleh setelah melakukan hal yang positif (misal setelah membaca buku motivasi.red). Katakan dalam hati bahwa kita pasti akan memperolehnya. Maka kita benar-benar akan memperoleh seperti apa yang kita inginkan. Bayangkan tanaman kita berbuah sangat lebat dan ranum. Tidak ada buah yang busuk sama sekali, karena pikiran negatif telah kita buang jauh-jauh. Yang ada hanya pikiran positif, bagai kucuran air bersih yang siap menyirami benih potensi yang ada dalam diri kita.

==***

Reza: Motivation Intelligence

Reza 'Supertrainer' Syarief, dalam bukunya (Real Battle for Success, 2003), mengatakan bahwa terbang di langit kesuksesan merupakan impian setiap orang di manapun dan kapanpun. Namun, mungkin kita sering dihadapkan pada cuaca buruk iklim yang ekstrim dari gejala "kegagalan" selama di perjalanan. Gejolak tersebut kadangkala seperti sebuah sabotase terhadap aset internal kita, hingga memangkas kemapuan terbaik kita tahap demi tahap. Itulah sebabnya kita memerlukan manuver "Mind Set Cleansing", sehingga aksi ini dapat menghindari batas negatif sekaligus memperkuat batas positif. Sementara itu, Perubahan batas tidak akan pernah terjadi jika kita tidak memindahkan sudut pandang tentang kehidupan dan memperkuat daya dorong internal.

Kita harus percaya bahwa setiap orang mempunyai potensi sukses, tetapi tidak muncul secara tiba-tiba ke permukaan. Itulah yang dinamakan "The Powerless Giant". Untuk membangkitkan "The Powerless Giant", kita butuh faktor yang luar biasa sehingga pencerahan diri dapat diwujudkan. Itulah faktor 'MI' (Motivation Intelligence).

"Make a spectacular history in your life and everybody will count it.
If you wanto to be alive, take the chance or you'll be loose it".

"Buatlah sebuah Sejarah yang Spektakuler dalam hidup Anda,
sehingga Semua orang akan memperhitungkannya.

Jika Anda inging hidup, maka ambillah setiap kesempatan atau (jika tidak) Anda akan kehilangan kesempatan tersebut".

===***